STTIAA GELAR 'MALAM KEBUDAYAAN' SPEKTAKULER: KOBARKAN SEMANGAT SUMPAH PEMUDA MELALUI KEKAYAAN BUDAYA BANGSA



jurnalpelayanan.com - MOJOKERTO, 28 Oktober 2025 - Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah (STTIAA) di Mojokerto, Jawa Timur, merayakan Hari Sumpah Pemuda ke-97 dengan menggelar sebuah acara puncak bertajuk "Malam Kebudayaan STTIAA Memperingati Sumpah Pemuda." Acara yang diselenggarakan secara apik pada Selasa, 28 Oktober 2025, di Ruang Makan STTIAA ini, menjadi manifestasi nyata dari komitmen kampus dalam memelihara nilai-nilai persatuan dan keberagaman di tengah lingkungan pendidikan teologi.
Tujuan utama dari perhelatan ini adalah merayakan kekayaan budaya Nusantara sekaligus membangun kebersamaan dan toleransi yang kuat di antara civitas akademika. Dalam konteks institusi teologi, pemahaman dan penghargaan terhadap budaya dan keberagaman menjadi landasan penting dalam menyiapkan mahasiswa sebagai calon pelayan yang dapat berinteraksi secara 
arif dan bijaksana di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Sebagaimana termaktub dalam pesan acara, "Indonesia kaya akan keberagaman budaya dari berbagai suku dan daerah. Sebagai mahasiswa teologi yang dipersiapkan untuk melayani di tengah masyarakat, pemahaman dan penghargaan terhadap budaya sangatlah penting."

Dukungan Penuh Ketua STTIAA Menjadi Fondasi Kegiatan

Acara Malam Kebudayaan ini mendapatkan dukungan penuh dan arahan dari pimpinan tertinggi institusi. Sebagai Pembina Umum, Dr. Thinna Naftali Woenardi, S.Th., M.Pd. selaku Ketua STTIAA, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian integral dari visi kampus untuk mencetak pemimpin Kristen yang Altruis, Tangguh dan Misioner serta peduli terhadap konteks kebangsaan dan keberagaman.
Secara struktural, kegiatan ini berada di bawah tanggung jawab penuh Dr. Yosua Sugiono, M.Th. selaku Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Pelayanan. "Semangat Sumpah Pemuda adalah semangat persatuan. Melalui acara ini, kami ingin memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya unggul dalam teologi, tetapi juga memiliki kepekaan budaya dan rasa cinta tanah air yang kuat, sesuai dengan tuntutan pelayanan di Indonesia yang majemuk," ujar Dr. Yosua Sugiono.
Adapun koordinasi teknis di lapangan dilaksanakan secara langsung oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STTIAA, yang diketuai oleh Tabita Leviana Manuel. Keterlibatan BEM menunjukkan inisiatif dan peran kepemimpinan mahasiswa dalam menghidupkan nilai-nilai kebangsaan di kampus khususnya dalam momen memperingati hari SUMPAH PEMUDA ke-97.
Meneguhkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Nilai Kebangsaan
Malam Kebudayaan ini tidak hanya berfungsi sebagai acara seremonial, melainkan juga sebagai pengejawantahan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat dan penanaman nilai-nilai kebangsaan. Dengan mengusung tema budaya, STTIAA secara aktif menumbuhkan kesadaran bahwa semangat "Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa" yang diikrarkan para pemuda pada 28 Oktober 1928, harus terus hidup dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui penghormatan terhadap keragaman etnis dan budaya.
Acara yang berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 21.45 WIB ini menyajikan rangkaian pertunjukan yang menarik dan penuh makna:
1. Panggung Spektakuler: Menjadi wadah utama bagi mahasiswa untuk menampilkan kreasi seni dari berbagai penjuru daerah, membuktikan bahwa perbedaan latar belakang tidak menghalangi untuk berkarya bersama.
2. Battel Kreasi 5 Penjuru Nusantara: Sebuah segmen unik yang mempertemukan kolaborasi dan "adu kreatif" dalam bentuk seni dari representasi lima wilayah Nusantara. Ini secara simbolis menunjukkan bahwa kekuatan bangsa terletak pada kemampuan untuk berkolaborasi di tengah perbedaan.
Gus Ilul
(Koordinator Gusdurian Kab/Kota Mojokerto)

3. Komunitas Gusdurian Show: Pertunjukan khusus ini disajikan untuk menyebarluaskan nilai-nilai toleransi, kemanusiaan, dan keberagaman yang diwariskan oleh mendiang KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kehadiran segmen ini menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan toleransi merupakan warisan bersama yang harus dijunjung tinggi oleh semua elemen bangsa, termasuk komunitas akademik teologi.
 
4. Malam Keakraban: Sesi penutup yang menjadi momen berharga bagi seluruh peserta untuk berinteraksi lebih dekat, saling berbagi cerita, dan mempererat tali persaudaraan antar mahasiswa dari beragam suku dan daerah, sejalan dengan semangat persatuan yang diikrarkan 97 tahun silam.
Inspirasi dari Sumpah Pemuda
Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini menjadi momentum refleksi bahwa persatuan bangsa Indonesia terlahir dari kesadaran kolektif para pemuda untuk mengenyampingkan ego kedaerahan demi cita-cita yang lebih besar. Bagi STTIAA, nilai-nilai tersebut relevan dengan panggilan pelayanan di tengah masyarakat Indonesia yang plural. Toleransi, persatuan, dan penghargaan terhadap kearifan lokal adalah modal penting bagi mahasiswa teologi dalam menjalankan tugasnya kelak.
Lokasi kampus STTIAA yang berada di kaki Gunung Welirang memiliki ketinggian sekitar 3.156 meter di atas permukaan laut dan gunung Penanggungan Trawas, Mojokerto ini  semakin memperkuat nuansa kebersamaan dan kedekatan dengan alam, seolah menyatukan semangat muda dengan keindahan serta kekayaan Indonesia.

Malam Kebudayaan ini sukses menyuguhkan tontonan sekaligus tuntunan, menginspirasi generasi muda STTIAA untuk menjadi agen pemersatu bangsa yang menghargai setiap helai keberagaman budaya sebagai mahkota kekayaan Indonesia. Acara ini bukan sekadar perayaan, melainkan janji untuk terus menjunjung tinggi ikrar Sumpah Pemuda, menjadikan STTIAA sebagai salah satu simpul penting dalam merajut harmoni kebangsaan. (VZ)
 


Posting Komentar

0 Komentar